Wednesday, 03 June 2026 | --:--:--
Politik

Ketika Ahli Hama Disuruh Ngurus Gizi: Menguliti Drama Pencopotan Kepala Badan Gizi Nasional yang Super Mendadak

Admin Reduksia 3 Juni 2026 • 05:22 WIB 3 views
Ketika Ahli Hama Disuruh Ngurus Gizi: Menguliti Drama Pencopotan Kepala Badan Gizi Nasional yang Super Mendadak
Drama Pencopotan Kepala Badan Gizi Nasional, Bukti Nyata Blunder Birokrasi! Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), lengkap beserta dua wakilnya (Lodewyk Pusung & Sony Sonjaya). Alasan resminya karena hasil "monitoring dan evaluasi" program kerja.

Belum juga program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirasakan merata oleh anak-anak sekolah, internal birokrasi kita udah kena plot twist yang lumayan bikin dahi berkerut. Per Selasa, 2 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi mendepak Dadan Hindayana dari kursinya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Gak main-main, ini adalah aksi bersih-bersih massal, karena dua Wakil Kepala BGN, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya, juga ikutan ditendang dari jabatannya.

Mensesneg Prasetyo Hadi dengan bahasa diplomatisnya bilang kalau reshuffle kilat ini adalah hasil dari "monitoring dan evaluasi". Istilah keren korporat yang kalau diterjemahin ke bahasa tongkrongan artinya: "Kerja luh pada gak sesuai target, jadi ya udah kita cut aja."

Sebagai generasi yang dituntut kritis dan gak gampang kemakan narasi formal, mari kita bedah red flags dan kejanggalan di balik keputusan ini.

1. The Background Check: Kompetensi yang Gak Match (The Math is NOT Mathing)

Kalau kita kuliti track record Pak Dadan Hindayana, beliau ini emang akademisi keren dan dosen di IPB University. Tapi, coba deh kita spill karya ilmiah dan fokus penelitiannya selama ini. Beberapa jurnal yang beliau tulis itu judulnya:

  • "Preferensi Serangan Tikus Sawah (Rattus argentiventer) terhadap Tanaman Padi"
  • "Keanekaragaman dan Peran Fungsional Serangga Ordo Coleoptera di Area Reklamasi Pascatambang Batu Bara"

Wait, what? Berarti dari awal, pemerintah itu nunjuk seorang pakar entomologi (ahli serangga) dan ahli hama tanaman buat megang lembaga super krusial yang tugasnya mikirin stunting, kalkulasi kalori, protein, dan pemenuhan gizi anak-anak se-Indonesia?

Ini dia contoh nyata dari fenomena “the wrong man in the wrong place”. Gimana caranya logika penanganan hama tikus di sawah bisa linier sama urusan pemenuhan gizi makro dan mikro manusia? Keputusan menaruh beliau di posisi itu sejak Agustus 2024 (zaman akhir pemerintahan Jokowi) sampai diteruskan ke era Prabowo, memperlihatkan kalau penunjukan pejabat kita sering kali cuma berdasarkan political accommodation (bagi-bagi jatah panggung), bukan karena asas kompetensi dan merit system.

2. Lembaga Krusial, tapi Dijadikan Kelinci Percobaan?

Badan Gizi Nasional ini bukan lembaga pelengkap yang cuma ada buat formalitas. BGN ini adalah "jantung" dari program mercusuar dan janji kampanye paling besar di era sekarang. Taruhannya adalah masa depan generasi penerus bangsa dan anggaran negara yang triliunan jumlahnya.

Tapi melihat pimpinan tertingginya langsung diganti total beserta wakil-wakilnya, publik jadi berhak banget buat skeptis. Katanya mereka dicopot setelah membangun "fondasi". Pertanyaannya: fondasi macem apa yang dibangun kalau baru berjalan sebentar langsung dievaluasi total dan diganti? Apakah ini tanda kalau di dalam internal BGN sendiri sebenarnya lagi terjadi management chaos karena pimpinannya kebingungan nge-eksekusi program yang emang bukan bidang keahliannya?

3. Sisi Positifnya (Kalau Mau Maksa Berprasangka Baik)

Satu-satunya hal yang bisa kita apresiasi dari pemerintah dalam kasus ini adalah: mereka cepat sadar kalau mereka blunder. Daripada program prioritas ini makin berantakan di tengah jalan gara-gara dipimpin oleh orang yang gak relate sama bidangnya, ya mending langsung di-cut tanpa perlu nunggu drama berkepanjangan. Langkah potong kompas ini bagus buat menyelamatkan anggaran negara agar gak makin boncos.


Kesimpulan: Stop Normalizing "Titipan Politik" di Sektor Vital!

Pencopotan Dadan Hindayana ini harusnya jadi tamparan keras buat sistem rekrutmen pejabat publik di Indonesia. Kita gak bisa terus-terusan menoleransi budaya "yang penting orang kita masuk dulu, urusan paham kerjaan mah belakangan".

Urusan gizi anak bangsa itu urusan nyawa dan masa depan, bukan tempat buat trial and error atau eksperimen birokrasi. Next time, kalau mau pilih pimpinan Badan Gizi, tolong pilih yang background-nya emang ahli gizi, dokter anak, atau pakar kebijakan publik bidang kesehatan. Jangan ahli serangga disuruh ngurusin susu dan makan siang gratis—ya jelas aja ujung-ujungnya kena kick!

Komentar

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Artikel Terkait